Wednesday, April 24, 2013

Bagi aku peluang

Bismillah
Assalamualaikum..

Rasanya ruangan kecil ini sudah semakin berkarat, sukar berfungsi dek wifi yang macam sus scrofa.
Jadi memandangkan waktu ini wifi agak simpati dengan aku yang sudah lama rindu nak menulis, jadi biarkan aku tenggelam dalam nikmatnya menaip meluah melakar dan mencoret rasa.

Bagi aku peluang dan kuasa veto untuk menulis segalanya.
Pleaseeee...

Gelandangan


Begitu ramai orang mencoret puisi,
puisi cinta,
puisi kehidupan dilakar suka dan duka,
puisi sebuah kejayaan,
puisi yang lebih mengajak,
banyak,
kau pasti temukan berlonggok populasi pemuisi
yang mengisi segenap ruang infiniti duniawi,

Begitu ramai yang menyalakan lampu idea,
mencari walau sebutir ayat yang mendalam
pemikirannya,
jika puisi itu matematik,
maka kau harus fikir apa formula
tepat yang membawa pada destinasi akhirnya,
jawapan yang tepat,
malah mengkagumkan!

Puisiku...
cuma tentang daun yang berguguran,
hujan yang tidak henti,
kelam yang semakin pekat,
penuh soal mati,
bukan maksudku memuja kematian,
tapi dek minda berputar ligat,
cuma pada waktu suram yang hitam.

Jika dilihat guna kanta pembesar,
puisi ku cuma sebuah puisi gelandangan,
tersadai terpinggir tak dipandang,
meminta simpati di kaki jalan,
dihimpit kesesakan pemuisi indah
yang lebih tajam fikiran.

Betapa gelandangannya puisiku ini,
cuma mampu dialunkan melankoliknya
dalam minda dalam hati,
untung jika masih boleh berfungsi,
jika sudah hilang nikmat hidupnya,
sunyilah kau tak diketahui,
sunyi tidak diingati,
malah mungkin tidak berpusara,
cuma tinggal tanah gersang yang tak diketahui wujudnya
mendiang puisi duka.

Puisiku puisi gelandangan,
ditepian,
puisiku dialun penuh kesepian,
puisiku dibaca bersendirian,
tidak dipedulikan,
tidak berbunyi megah,
cacat dan serba salah
cuma sampah.

Puisi gelandangan ini,
masih tetap menerangi pemuisinya,
meski malap tapi masih segar,
masih bernyawa,
puisi gelandangan inilah jiwanya,
hatinya, akalnya, juga nafsunya.
Jika gelandangan,
maka selamatlah mungkin dari kejamnya dunia
penuh tipu dan dusta.

Sukar itu bahagia,
bahagia itu perangkap tidak nyata.

Terimalah puisi gelandangan,
tak bernama,
tak dipuja,
cuma seadanya.


p/s : sekadar gelandangan di dunia puisi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...