Tuesday, February 12, 2013

Hujan turun lagi

Bunyi titisan air yang berdetik
sedikit demi sedikit sudah semakin membanyak,
menutup esakan sang perindu,
Dinginnya angin beserta hujan
membawa pergi rasa kasih yang masih bersisa,
Membekukan hati yang masih berdenyut,
Darah merah memenuhi gelas itu,
Darah yang mengalir bukan dari kesan luka,
Tapi mengalir dari mata yang selalu berduka,
Mulanya yang mengalir itu cair,
Semakin lama semakin pekat dan sakit,
Kalau sebelum ini esakan terlalu kuat,
Kini tiada satu esakan yang keluar,
Senyap sunyi,
yang kedengaran cuma titisan darah dari mata,
Beserta titisan hujan yang menggarang di luar jendela,
Semuanya bersatu,
Satu saat di mana tiada darah yang terhasil,
Kau berdiam diri menatap hujan
yang sedari tadi turun tidak berhenti,
Matamu sudah cengkung,
Tubuhmu yang segar sudah tidak lagi terlihat bentuknya,
Setiap garis kulit dan tulangmu tampak jelas teksturnya,
bibir munggilmu tidak lagi tersenyum menggoda,
lembut rambutmu ditiup bayu dari jendela,
kau pejam mata penuh sayu,
sekali lagi darah dari matamu mengalir laju,
entah apa yang kau kenang wahai sang perindu,
sekejap kau diam sekejap kau menangis pilu,
mungkin hatimu menangis selaju hujan yang turun itu,
mungkin juga hatimu dan hujan sudah bersatu,
hari ini kau menangis lagi,
hari ini hujan turun tidak berhenti,
tidurlah sang perindu,
dingin ini bersedia memelukmu,
membekukan hatimu,
hingga tiada lagi darah yang ditangismu.

tidurlah




p/s : inspirasi dari hujan yang turun sejak hari itu dan kesejukan yang menyelubungi

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...