Monday, January 14, 2013

Bulan juga boleh sunyi

Malam itu malam yang pekat,
Tiada satupun bintang yang muncul di permukaannya,
rembulan itu kini sendiri lagi tanpa temannya.

Angin bertiup kononnya mahu menemani,
tetapi tiupannya sekejap dan seketika,
lampu neon itu masih tetap menyala seperti selalu,
cuma kali ini lebih kelam dan sayup.

Malam itu terus jadi malam yang kelam,
dek efek alam yang kian suram,
Sang pencinta sibuk menjamah indahnya cahaya bulan,
seolah bulan itu cahaya paling romantis,
cuma satu yang dia tidak tahu,
sang bulan sudah dingin, kaku dan beku.

Masih disalah anggap oleh sang pencinta,
khabarnya,
meskipun mereka terpisah jauh,
namun keduanya masih memandang bulan yang sama,
saling mengirim ucapan kasih melaluinya,

Bulan sudah bosan,
bosan menjadi saksi cinta sang manusia,
sedangkan hati ini masih sendiri ditinggalkan
bintang dalam gelap malam.

Semua gara-2 mendung yang tiba-2 menjengah,
mendung itu petanda.
petanda sunyi bakal menghirup segala warna bahagia.
bila mendung menguasai,
sunyi sudah kenyang dengan juadah bahagia,
bulan mati.
mati kesejukan.
mati kegelapan.
suram dan kelam dan cahayanya tidak lagi mampu
dijamah sang pencinta.

Sudahlah mati, disalahkan pula oleh sang pencinta,
Tidak kenang budi!
Berhari hari malah bertahun kau bermandi cahaya bulan
demi cinta yang kau agungkan,
kehausan cahaya itu bila kau kerinduan,
Kau fikir aku apa?
Pasti itu jerit batin sang bulan sengsara.

Bosan dengan drama petang slot akasia,
bosan dengan drama korporat slot samarinda,
semua itu mengarut.
masih menggguna pakai idea kisah dongeng,
cuma permukaannya nampak lebih realiti,

Biar,
biar sunyi menjamah setiap bahagia yang bersisa,
biar mendung menutup segala limpahan cahaya,
aku sudah hilang bintang.
Bintang itu bahagia,
bintang itu penyeri cahaya.
Aku lebih rela menari gembira dalam pekat malam
andai bintang menjadi peneman.
Waktu itu, limpahan cahaya bersama senyuman buat sang pencinta
aku lurutkan...

Dan kini aku menanti waktu itu.
Buat masa sekarang biar aku tidur dalam kesejukan malam,
bersama dodoi sang hujan dan sunyi.
Selamat malam sang pencinta,
aku pergi bawa cahaya sekali,
moga kau mampu berdiri sendiri...



_Bulan itu sunyi_

sumber [SINI]



p/s : menaip sambil pekena kopi campuran hazelnut ihsan cik fifey, terasa seperti penulis profesional
tak bergaji, menikmati hidup penuh fantasi dan semuanya bermula dari jari yang menari
di atas papan kekunci..

2 comments:

Ramona Alice said...

habislah kopi aku yang kau tagih nanti untuk inspirasi menulis.

dammahumrima said...

the pikca.. nice!! glowing!!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...